20151004

Rekapitulasi harga bangunan merupakan bagian dari perhitungan rencana anggaran biaya bangunan yang berfungsi untuk merekap hasil perhitungan analisa harga satuan sehingga mudah dibaca dan dipahami, sebelum membuat rekapitulasi harga bangunan terlebih dahulu dihitung harga tiap – tiap item pekerjaan
contoh analisa harga satuan yang merupakan detail dari rekapitulasi harga bangunan
Pekerjaan persiapan meliputi:
  • Pekerjaan mobilisasi alat dan bahan
  • Pekerjaan pembersihan lahan
  • Pekerjaan pemsangan bowplank

Pekerjaan pondasi meliputi:
  • Pekerjaan galian tanah
  • Pekerjaan lantai kerja
  • pekerjaan urugan pasir
  • pekerjaan pasangan batu kali
  • Pekerjaan urugan tanah kembali
Pekerjaan dinding meliputi:
  • Pekerjaan pasangan dinding bata
  • Pekerjaan plesteran
  • Pekerjaan acian
Pekerjaan beton bertulang meliputi:
  • Pekerjaan sloof
  • pekerjaan kolom
  • pekerjaan ring balok
  • pekerjaan lantai beton
Pekerjaan atap meliputi
  • Pekerjaan rangka atap
  • pekerjaan penutup atap
  • pekerjaan kerpus
  • pekerjaan lis plank
Pekerjaan plafond meliputi:
  • Pekerjaan rangka plafond
  • Pekerjaan plafond
Pekerjaan lantai meliputi:
  • Pekerjaan urugan tanah
  • pekerjaan lantai kerja pekerjaan pasir urug
  • pekerjaan scred lantai
  • pekerjaan lantai keramik
Pekerjaan landscape meliputi:
  • Pekerjaan urugan tanah
  • pekerjaan kanstin
  • pekerjaan paving block
  • pekerjaan penanaman tanaman
  • pekerjaan kolam taman
Pekerjaan pintu dan jendela meliputi
  • pekerjaan pintu
  • pekerjaan jendela
  • pekerjaan boven
dari masing-masing item pekerjaan tersebut dihitung analisa harga satuanya masing-masing kemudian dibuat rekapitulasi harga pekerjaan


Sumber ilmusipil

Posted on 06:26 by Unknown

No comments

Pada artikel kali ini kita coba buat sebuah contoh perhitungan volume material bangunan yang diperlukan untuk menghitung rencana anggaran biaya bangunan maupun sebagai pedoman untuk membeli bahan bangunan.
Berikut ini beberapa contoh perhitungan volume bangunan yang dihitung tanpa penambahan faktor keamanan dan material terbuang yang biasanya ditambahakan dalam perhitungan volume material
  • Perhitungan volume beton
Dalam perencanaan anggaran biaya bangunan besarnya kebutuhan beton sering dihitung dengan satuan m3
Contoh perhitungan volume beton
Sebuah kolom beton berukuran 0,25 m x 0,25 m dengan tinggi 3 maka volume beton adalah 0,25 m x0,25 m x 3 m = 0,1875 m3

  • Perhitungan volume besi beton
Besarnya volume besi beton dapat dihitung dengan satuan kg atau batang
Contoh perhitungan volume besi beton
Sebuah kolom setinggi 3 m mempunyai 4 buah besi diameter 10 sebagai tulangan pokok, sebelumnya kita lihat tabel besi dahulu disini untuk mengetahui berat besi diameter 10 per m, atau bisa kita hitung dengan rumus 0,00065 x (10×10). Selanjutnya kita hitung volume besi beton 4bh x 3m  = 12 m, jika panjang besi per batang yang dijual dipasaran adalah 12m maka kita membutuhkan 1 btg yang jika dikonversi ke kg sama dengan 12 m x berat besi per m =  12 x … = …. kg

  • Perhitungan volume kayu
Besarnya volume kayu sebagai material bangunan dapat dihitung dengan satuan m3 atau m
Contoh perhitungan volume kayu
Sebuah balok tarik kuda – kuda kayu ukuran 8/12 dengan bentang 6 m mempunyai volume sebesar 0,08×0,12×6= 0,0576 m3 , jika panjang kayu yang dijual dipasaran perbatang adalah 4 m maka kita membutuhkan kayu sebesar 6 : 4 = 1,5 btg.

  • Perhitungan volume kaca
Volume material kaca dihitung dengan satuan m2, misalnya sebuah jendela mempunyai kaca berukuran 60 cm x 150 cm maka volume kaca adalah 0,6 m x 1,5 m =0,9 m2 , namun untuk memudahkan pembuatan rencana anggaran biaya bangunan seringkali volume kaca dihitung dalam satuan unit.

  • Perhitungan volume urugan dan galian tanah
Perhitungan volume urugan dan galian tanah dihitung dalam satuan m3, misalnya kita akan melakukan pekerjaan urugan tanah pada lahan berukuran 6m x 12 m dengan ketinggian urugan tanah 2 m maka besarnya volume tanah adalah 6×12 = 72 m3

  • Perhitungan volume batu bata
Perhitungan volume pasangan batu bata dalam perhitungan rencana anggaran biaya dapat dihitung dengan ukuran m2, misalnya sebuah pekerjaan pemasangan dinding bata berukuran 3m x 3m maka volume pasangan batu bata adlah 3m x 3 m = 9m2 , untuk menghitung jumlah batu bata dapat dilakukan dengan cara mengalikan luas pasangan batu bata dengan jumlah kebutuhan batu bata per m2, untuk lebih tepatnya sebaiknya dilakukan perhitungan jumlah bata per m2 sesuai pengalaman masing-masing, namun dalam standar nasional Indonesia memberikan data jumlah bata ukuran per m2 = 70 bh, jika kita kalikan 9mx70bh = 630 bh batu bata.


Sumber ilmusipil

Posted on 06:23 by Unknown

No comments

Analisa harga satuan bekisting atau biasa juga disebut form work berdasarkan standar nasional indonesia (SNI)
Memasang 1 m2 bekisting untuk pondasi
  • Analisa harga Bahan
Kayu kelas III 0,040 m3
Paku 5 cm – 10 cm 0,300 kg
Minyak bekisting 0,100 Liter
  • Analisa harga Tenaga kerja
Pekerja 0,520 OH
Tukang kayu 0,260 OH
Tenaga kerja Kepala tukang 0,026 OH
Mandor 0,026 OH

Memasang 1 m2 bekisting untuk sloof
Kebutuhan Satuan Indeks
  • Analisa harga Bahan
Kayu kelas III 0,045 m3
Paku 5 cm – 10 cm 0,300 kg
Minyak bekisting 0,100 Liter
  • Analisa harga Tenaga kerja
Pekerja 0,520 OH
Tukang kayu 0,260 OH
Tenaga kerja Kepala tukang 0,026 OH
Mandor 0,026 OH

Memasang 1 m2 bekisting untuk kolom
  • Analisa harga Bahan
Kayu kelas III 0,040 m3
Paku 5 cm – 12 cm 0,400 kg
Minyak bekisting 0,200 Liter
Balok kayu kelas II 0,015 m3
Plywood tebal 9 mm 0,350 Lbr
Dolken kayu galam, φ (8–10) cm, panjang 4 m  2,000 Batang
  • Analisa harga Tenaga kerja
Pekerja 0,660 OH
Tukang kayu 0,330 OH
Tenaga kerja Kepala tukang 0,033 OH
Mandor 0,033 OH

Memasang 1 m2 bekisting untuk balok
  • Analisa harga Bahan
Kayu kelas III  0,040 m3
Paku 5 cm – 12 cm  0,400 kg
Minyak bekisting  0,200 Liter
Balok kayu kelas II  0,018 m3
Plywood tebal 9 mm  0,350 Lbr
Dolken kayu galam, φ (8-10) cm, panjang 4 m 2,000 Batang
  • Analisa harga Tenaga kerja
Pekerja 0,660 OH
Tukang kayu 0,330 OH
Tenaga kerja Kepala tukang 0,033 OH
Mandor 0,033 OH

Memasang 1 m2 bekisting untuk lantai
  • Analisa harga Bahan
Kayu kelas III 0,040 m3
Paku 5 cm – 12 cm 0,400 kg
Minyak bekisting 0,200 Liter
Balok kayu kelas II 0,015 m3
Plywood tebal 9 mm 0,350 Lbr
  • Dolken kayu galam, φ (8-10) cm, panjang 4 m 6,000 Batang
Analisa harga Tenaga kerja
Pekerja 0,660 OH
Tukang kayu 0,330 OH
Tenaga kerja Kepala tukang 0,033 OH
Mandor 0,033 OH

Memasang 1 m2 bekisting untuk dinding
  • Analisa harga Bahan
Kayu kelas III 0,030 m3
Paku 5 cm – 12 cm 0,400 kg
Minyak bekisting 0,200 Liter
Balok kayu kelas II 0,020 m3
Plywood tebal 9 mm 0,350 Lbr
Dolken kayu galam, φ (8-10) cm, panjang 4 m 3,000 Batang
Formite/penjaga jarak bekisting/spacer 4,000  Buah
  • Analisa harga Tenaga kerja
Pekerja 0,660 OH
Tukang kayu 0,330 OH
Kepala tukang 0,033 OH
Mandor 0,033 OH

Memasang 1 m2 bekisting untuk tangga
  • Analisa harga Bahan
Kayu kelas III 0,030 m3
Paku 5 cm – 12 kg 0,400 cm
Minyak bekisting 0,150 Liter
Balok kayu kelas II 0,015 m3
Plywood tebal 9 mm 0,350 Lbr
Dolken kayu galam, φ (8-10) cm, panjang 4 m 2,000 Batang
  • Analisa harga Tenaga kerja
Pekerja 0,660 OH
Tukang kayu 0,330 OH
Kepala tukang 0,033 OH
Mandor 0,033 OH


Sumber:  ilmusipil
                SNI

Posted on 06:19 by Unknown

No comments

Koefisien analisa harga satuan adalah angka – angka jumlah kebutuhan bahan maupun tenaga yang diperlukan untuk mengerjakan suatu pekerjaan dalam satu satuan tertentu. koefisien analisa harga satuan berfungsi sebagai pedoman awal perhitungan rencana anggaran biaya bangunan, kondisi tersebut membuat koefisien analisa harga satuan menjadi kunci menghitung dengan tepat perkiraan anggaran biaya bangunan.

Contoh koefisien analisa harga satuan bangunan
misalnya untuk 1 m2 pekerjaan plesteran dinding koefisien analisa harga satuanya adalah sebagai berikut:
Analisa  untuk 1 m2 pekerjaan plesteran 1 pc : 4 ps adalah
koefisien analisa bahan
  • 0.2170 zak semen
  • 0.02830 m3 pasir pasang
koefisien analisa tenaga
  • 0.0125 hari mandor
  • 0.0200 hari kepala tukang
  • 0.2000 hari tukang batu
  • 0.2500 hari pekerja
angka – angka diatas merupakan koefisien analisa harga satuan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan 1m2 pekerjaan plesteran membutuhkan 0.2170 zak semen, sehingga jika kita akan mengerjakan 100 m2 pekerjaan plesteran maka kita harus membeli atau menyediakan semen sebanyak 0.2170 x 100 = 21,70 zak.
begitu juga dengan kebutuhan tenaga sesuai koefisien analisa harga satuan diatas untuk menyelesaikan 1m2 pekerjaan plesteran diperlukan 0.20 hari tukang batu, maka untuk menyelesakan 100 m2 plesteran dibutuhkan 0.20 x 100 = 20 hari kerja untuk satu tukang, nah jika kita ingin menyelesaikan pekerjaan plesteran tersebut dalam waktu 5 hari maka diperlukan tukang batu sebanyak 20 hari : 5 = 4 tukang batu.

Cara mencari koefisien analisa harga satuan rencana anggaran biaya bangunan ?
untuk mencari koefisien analisa harga satuan di indonesia bisa dlakukan dengan berbagai macam cara, diantaranya adalah:
  • Melihat buku Analisa BOW
Koefisien analisa harga satuan BOW ini berasal dari penelitian zaman belanda dahulu, untuk sekarang ini sudah jarang digunakan karena adanya pembengkakan biaya pada koefisien tenaga.
  • Melihat Standar Nasional Indonesia ( SNI )
standar nasional ( SNI ) ini di keluarkan resmi oleh badan standarisasi nasional, dikeluarkan secara berkala sehigga SNI tahun terbaru merupakan revisi edisi SNI sebelumya. untuk memudahkan mengetahui edisi yang terbaru, SNI ini diberi nama sesuai tahun terbitnya misal : SNI 1998, SNI 2002 , SNI 2007.
  • Melihat standar perusahaan
pada perusahaan tertentu menerbitkan koefisien analisa harga satuan tersendiri sebagai pedoman kerja karyawan, koefisien analisa harga satuan perusahaan ini biasanya merupakan rahasia perusahaan.
  • pengamatan dan penelitian langsung dilapangan.
Cara ini cukup merepotkan dan membutuhkan cukup banyak waktu, tapi hasilnya akan mendekati ketepatan karena diambil langsung dari pengalama kita dilapangan, caranya dengan meneliti kebutuhan bahan, waktu dan tenaga pada suatu pekerjaan yang sedang dilaksanakan.
  • melihat standar Harga satuan
Harga satuan ini dikeluarkan per wilayah oleh pemerintah indonesia maupun standar perusahaan masing – masing, jika kita menggunakan harga satuan ini maka kita tidak memerlukan koefisien analisa harga satuan karena untuk menghitung rencana anggaran biaya kita hanya perlu mengalikan volume pekerjaan dengan harga satuan.


Sumber ilmusipil

Posted on 06:10 by Unknown

No comments

RAP adalah rencana anggaran biaya proyek pembangunan yang dibuat kontraktor untuk memperkirakan berapa sebenarnya biaya sesungguhnya yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu kontrak kerja proyek konstruksi, sedangkan RAB adalah rencana anggaran biaya bangunan yang dibuat oleh konsultan perencana sebagai dasar untuk melakukan kontrak kerja konstruksi. jadi dari pengertian tersebut bisa kita lihat bahwa selisih antara RAP dan RAB merupakan gambaran awal untuk memperkirakan laba rugi perusahaan kontraktor. jadi fungsi RAP itu sangat penting dalam menunjang keberhasilan sebuah proyek konstruks. Berikut ini macam-macam fungsi lainya.

Fungsi RAP ( rencana anggaran biaya pembangunan )
  1. Sebagai pedoman general kontraktor untuk melakukan perjanjian kontrak dengan sub kontraktor atau pemborong.
  2. Sebagai acuan untuk negoisasi harga antara general kontraktor dengan mandor atau subkontraktor.
  3. Untuk mengetahui perkiraan keuntungan atau kerugian yang akan dialami jika menggunakan suatu metode kerja.
  4. Jika ternyata diperkirakan rugi maka kontraktor bisa mencari jalan agar tetap untung.
  5. Sebagai dasar untuk membuat jadwal pendatangan material dan tenaga kerja.
  6. Sebagai bahan laporan proyek kepada perusahaan pada kontraktor besar yang mempunyai banyak proyek.
  7. Sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan langkah manejemen terbaik agar kontraktor untung dan pemilik proyek senang.
  8. Untuk membuat kurva s, namun jadwal ini biasanya dibuat khusus untuk keperluan kontraktor, sedangkan untuk laporan ke konsultan pengawas atau pemilik proyek tetap berpedoman pada RAB  .

Cara menghitung RAP rencana anggaran biaya proyek pembangunan pada prinsipnya sama seperti ketika menghitung RAB, hanya saja data-data yang digunakan merupakan rahasia perusahaan kontraktor seperti analisa harga satuan, harga bahan bangunan, harga upah tenaga kerja. data-data tersebut bisa dibuat dari hasil penelitian serta pengalaman selama mengerjakan proyek konstruksi. kontraktor yang bagus biasanya membuat standar khusus untuk menghitungnya dan tidak memberitahukan secara umum, atau istilahnya merupakan rahasia dapur perusahaan. format perhitunganya juga mengikuti standar perusahaan masing-masing. bisa dibilang bahwa disinilah sumber perbedaan harga borongan yang ditawarkan perusahaan sehingga bisa menjadi daya saing dalam dunia usaha kontraktor bangunan untuk memenangkan persaingan bisnis.


Sumber ilmusipil

Posted on 06:06 by Unknown

No comments

Ada banyak metode yang dapat digunakan untuk memperkirakan biaya untuk mewujudkan sebuah bangunan, diantara sekian metode tersebut tentu ada yang paling gampang sekaligus cepat, sebelumnya kita telah mengenal sistem analisa harga stuan bangunan yang biasa disebut sebagai AHS namun untuk menghitungnya harus dibuat secara rinci pada setiap detail masing-masing pekerjaan sehingga membutuhkan waktu dan olah pikir yang tidak sedikit, ada juga yang hanya menggunakan harga satuan saja sehingga tinggal mengalikan volume dengan harga pekerjaan, namun semua langkah tersebut rasanya belum terlihat mudah dan praktis untuk digunakan oleh masyarakat umum yang tidak mendalami secara khusus tentang ilmu teknk sipil arsitektur khususnya rencana anggaran biaya bangunan, Nah.. disini kita akan mencoba menjelaskan cara mudah menghitung RAB rumah yaitu dengan sistem m2 luas bangunan.

Rumus menghitung RAB secara mudah

RAB rumah = Luas rumah x harga per m2 bangunan

Contohnya begini: kita akan membangun rumah ukuran 6m x 6m, lalu kita cari informasi berapa harga per m2 bangunan pada daerah tersebut, misalnya kita dapatkan data harga rumah Rp.2.500.000,-/m2 maka total biaya yang dibutuhkan untuk membangun rumah tersebut sampai selesai adalah:
  • Luas bangunan = 6m2 x 6m2 = 36m2.
  • RAB rumah = 36m2 x Rp.2.500.000,- = Rp.90.000.000,- (sembilan puluh juta rupiah).
Mudah bukan? intinya kita membutuhkan dua data penting yaitu luas rumah dan harga per m2 bangunan. Cara ini tentu punya kelebihan dan kekurangan, oleh karena itu mari kita coba ungkap disini.
Kelebihan
  1. Data yang dibutuhkan tidak terlalu banyak, sehingga bisa lebih mudah dan cepat dalam menghitung.
  2. Dapat digunakan oleh masyarakat umum yang belum mengenal ilmu rencana anggaran biaya bangunan secara mendalam.
Kekurangan
  1. Tingkat ketelitianya masih jauh dibawah sistem analisa harga satuan pekerjaan.
  2. Tidak bisa dijadikan patokan untuk menghitung kebutuhan material dan tenaga bangunan.
  3. Tidak bisa dijadikan sebagai dasar perjanjian kontrak kerja proyek konstruksi. 



Sumber ilmusipil

Posted on 05:45 by Unknown

No comments

20151003

Daftar Analisa Harga Satuan SNI Terbaru Tahun 2008,Untuk anda yang membutuhkannya saya mau share file ini saya dapatkan dari salah satu blog dan saya ingin menyimpannya di blog kesayangan saya ini. Jadi silahkan anda yang mencari Analisa Harga Satuan SNI Terbaru download filenya dibawah ini :

Analisa Harga Satuan SNI Terbaru Tahun 2008


1. Tata Cara Perhitungan Harga Satuan Perhitungan Pekerjaan TANAH untuk Konstruksi Bangunan Gedung Dan Perumahan SNI  [download]

2. Tata Cara Perhitungan Harga Satuan Perhitungan Pekerjaan PONDASI untuk Konstruksi Bangunan Gedung Dan Perumahan SNI  [download]

3. Tata Cara Perhitungan Harga Satuan Perhitungan Pekerjaan BETON untuk Konstruksi Bangunan Gedung Dan Perumahan SNI  [download]

4. Tata Cara Perhitungan Harga Satuan Perhitungan Pekerjaan DINDING untuk Konstruksi Bangunan Gedung Dan Perumahan SNI  [download]

5. Tata Cara Perhitungan Harga Satuan Perhitungan Pekerjaan PLESTERAN untuk Konstruksi Bangunan Gedung Dan Perumahan SNI  [download

6. Tata Cara Perhitungan Harga Satuan Perhitungan Pekerjaan KAYU untuk Konstruksi Bangunan Gedung Dan Perumahan SNI  [download]

7. Tata Cara Perhitungan Harga Satuan Perhitungan Pekerjaan PENUTUP LANTAI DINDING untuk Konstruksi Bangunan Gedung Dan Perumahan SNI  [download

8. Tata Cara Perhitungan Harga Satuan Perhitungan Pekerjaan BESI ALUMUNIUM untuk Konstruksi Bangunan Gedung Dan Perumahan SNI  [download]

9. Tata Cara Perhitungan Harga Satuan Perhitungan Pekerjaan LANGIT-LANGIT untuk Konstruksi Bangunan Gedung Dan Perumahan SNI  [download]


Sumber Materi : http://triantomedia.blogspot.com/2011/04/analisa-sni-tahun-2008.html

Posted on 11:51 by Unknown

No comments